Monday, 15 March 2010

HARI-HARI BESAR ISLAM DALAM SOROTAN


Peringatan Maulid Nabi Shollallohu 'Alaihi wa Sallam

Beberapa waktu lalu kaum muslimin telah memperingati Maulid Nabi Muahammad Shallallahu ‘Alahi Wa Sallam. Mayoritas kaum muslimin menganggapnya suatu ibadah yang tidak boleh ditinggalkan . sama halnya dengan peringatan Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alahi wa Sallam, peringatan nisfu sya’ban, Nuzulul Qur’an. Dalam ritual-ritual ini disuguhkan makanan-Makanan khusus. Ketika kita tanyakan untuk apa diperingati peristiwa-peristiwa itu, maka jawaban mereka bermacam-macam, “ini merupakan bagian dari syari’at islam dan dapat mendekatkan diri kita kepada Allah”, “ini bukti kecintaan kita kepada Rasulullulloh”, “untuk menyemarakkan syia’ar islam”, atau “ini adalah kebiasaan nenek moyang kita yang harus dijaga” dan lain-lain.

Penulis ingin memberikan pandangan lain tentang masalah ini demi nasehat-menasehati. Ketika Rasulullah Shallallahu “Alahi Wa Sallam berada di Arafah dalam rangka melaksanakan haji (yang terakhir bagi beliau), turunlah ayat terakhir kepada beliau, Allah berfirman :

“pada hari Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukukpkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhoi islam sebagai agamamu”. (QS.5:3).

Allah telah menegaskan bahwa agama inni telah sempurna, tidak butuh perubahan dari siapa dan kapanpun. Maka apa yang tidak dianggap bagian dari agama pada dimasa Rasullullah, hari ini bukan pula dari agama. Kalau disandarkan kepada (dianggap bagian dari) agama pada hari ini atau beberapa puluh tahun yang lalu, akan tetapi tidak ada di zaman Rasulullah, maka itu adalah tambahan atau perkara baru dalam agama yang sering disebut dengan istilah bid’ah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan :

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarang olehnya maka tinggalkanlah”. (QS.59:7).

Dan Rasulullah telah memerintahkan kita untuk menjauhi bi’ah. Beliau bersabda : “jauhilah hal-hal yang baru karena seriap yang baru (dalam masalah agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi). Di dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda : “seburuk-buruk perkara adalah perkara-perkara baru, setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”. (HR. Muslim). Tidak ada pintu bagi yang mengatakan ada bid’ah hasanah karena Rasulullah mengatakan kullu bid’atin dholaalah (setiap bid’ah adalah sesat).

Sekarang kita lihat, pernahkah Rasulullah memperingati hari kelahirannya (maulid), atau pernahkah Beliau memerintahkan untuk memperingatinya? Dan pernahkah sahabat memperingati maulid itu? Tidak ada satu pun hadits yang shohih tentang disyariatkannya peringatan Mauli Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Al Hafidz Ibnu Katsir Rohimahullohu dalam kitabnya Al-Bidayah wan Nihayah (11/172) menyatakan bahwa yang mula-mula yang mengadakan perayaan ini adalah Ubaidillah bin Maimun Al-Qodiyah Al-Yahudy pemerintah dimesir pada zaman Daulah Fatimiyah Al-‘Ubaidiyah (357-567 H –waktu yang sangat jauh dari zaman Rasulullah dan sahabat-) Malahan peringatan maulid itu merupakan satu bentuk tasyabuh (penyerupaan) dengan orang yang memperingati hari kelahiran Yesus, padahal Rasulullah bersbada : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu” (HR. Ahmad dan Abu Daud). begitu pula dengan peringatan hari-hari besar Islam lainnya kecuali Idul Fitri dan Idul Adha, seperti Isra’ Mi’raj (27 Rajab), malam nisyfu sya’ban (10 Muharram), Nuzulul Qur’an (17 Romadhon) dan lian-lain, tidak punya dasar dari agama ini. Oleh karenanya, peringatan-peringatan tersebut adalah bid’ah yang nyata dan bukan bagian dari ajaran agama Islam.

Memplelajari kehidupan, sifat dan kepribadian Beliau tidak mesti lewat acara khusus seperti maulid itu, apalagi hanya setiap tahun, bisa dengan membaca sirah nabawiyah, ikut ta’lim yang membahas tentang kehidupan beliau. Melakukan suatu amalan yang sesuai dengan tutunannya untuk membangkitkan rasa cinta kepada Rasulullah atau berupaya mendekatakan diri kepada Allah adalah ibadah, dan tidak bisa dilakukan kecuali ada syariatnya. syarat diterimanya ibadah adalah ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wa Sallam. tanpa keduanya, sia-sia melakukan suatu amalan. Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengada-adakan suatu amalan dalam urusan (agama) kami ini pada hal bukan termasuk bagian didalamnya, maka dia tertolak” (HR. Bukhori Muslim). Dalam riwayat lain : “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya (contohnya) dalam urusan kami, maka dia tertolak. (HR. Muslim).

Memperingati hari –hari besar islam dengan alasan dapat menyemarakkan syiar Islam, maka mari kita melihat besi yang berkarat. Volume besi tersebut bertambah besar karena terjadi korosi (reaksi oksigen + zat besi), akan tetapi kekuatannya berkurang seiring dengan bertambahnya volume. Nampak dari besi tersebut kelihatan besar akan tetapi besi tersebut telah keropos karena aslinya telah rusak. Begitu pula dengan syariat Islam ini, apabila banyak campuran atau bid’ahnya, maka lambat laun ajaran Islam yang asli akan ditinggalkan. Dengan peringatan-peringatan itu, dakwah kelihatan maju, akan tetapi sesungguhnya islam itu tengah digerogoti. Rasulullullah kembali mengingatkan : “tidaklah suatu kaum mendatangkan bi’ah melainkan diangkat semisal bid’ah itu suatu hal dari sunnah, maka berpegang kepada sunnah itu lebih baik dari pada mendatangkan bi’ah” (HR. Ahmad). Sunnah adalah ajaran Rasululah dan para sahabatnya yang sekaigus merupaka ajaran islam.

Kalau kita tetap melaksanakan bid’ah dengan alasan ada kebaikan di dalamnya, maka Imam Malik Rahimahullahu menegaskan : “Barangsiapa melakukan bid’ah dalam islam dan menganggapnya sebagai bid’ah hasanah (membawa kebaikan), maka sunngguh ia telah menuduh Muhammad Shallallahu ‘alahi wa Sallam berkhianat dalam menyampaikan risalah (tidak menyampaikan semua risalah)”. Na’udzubillahi min dzalik, padahal semua jalan-jalan kebaikan telah beliau tunjukkan, begitu pula dengan jalan-jalan keburukan telah beliau ingatkan.

Ada yang mengatakan : “ini adalah kebiasaan nenek moyang kita, jangan ditinggalkan karena tidak mungkin kiai-kiai dan profesor-profesor melaksanakannya kalau tidak baik”. perktaan ini mirip dengan perkataan orang kafir Quraisy ketika Rasulullah mengajak mereka masuk islam. Allah Ta’ala berfirman:

“apabila dikatakan kepada mereka, “ikutilah apa yang diturunkan Allah”, mereka menjawab; “(tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami”. (QS.2 : 170).

Dilaksanakannya peringatan hari-hari besar Islam tersebut oleh orang-orang tua kita terdahulu, mayoritas kaum muslimin (di indonesia), kiai-kiai atau profesor-profesor agama sekalipun, bukanlah dalil bagi kita untuk mengikuti rutinitas bid’ah tersebut. Kebenaran suatu perbuatan tidak dilihat dari jumlah maupun status pelakunya, akan tetapi dilihat dari aturannya.

Dalam Islam, aturan ibadah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah (Hadits). kalau ada suatu amalan yang dianggap suatu ibadah dan mengandung kebaikan akan tetapi tidak ada dasarnya dalam Al-Qura’an dan As-Sunnah, maka walaupun semua orang melaksanakan amalan tersebut mulai orang awamnya sampai cendikiawan atau kiai-kiainya, amalan tersebut tetap batil dan sia-sia. Ada satu kaidah ushul dalam agama kita berbunyi: Al ashlu fil ‘ibaadatii attahiim illa maa dallaaddililu ‘alaa masyru’iyyatiha. wa ashlu fil mu’aamalati al ibaahati illa maa dalla addaliilu ‘alaa tahriimihaa. Pada asalnya ibadah itu haram sampai ada dalil pensyariatannya. dalam muamalah itu pada asalnya boleh sampai ada dilil pelarangannya. Artinya, semua bentuk pengorbanan untuk mendekatkan dirir kepada Allah, sampai ada perintahnya, dan semua mu’amalah untuk mendapatkan kenikmatan di dunia dibolehkan sampai ada larangangnya. Marilah kita kembali kepada Sunnah Rasulullah dan tinggalkan bid’ah. Itu lebih baik bagi kita semua. wallahu ‘alam.

No comments: